
Musi Banyuasin, Naskahmerdeka.id, 3 Maret 2025 – Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia Amirul Aulia Mursyidinal Balai Butari (TNIAAMBB) bersama Pengajian Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia sukses menggelar Suluk atau Khalwat Fijawad perdana di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatra Selatan.
Acara tersebut diikuti ratusan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelaksanaan Khalwat Fijawad berlangsung di Desa Rantau Sialang, Kecamatan Sungai Keruh, Muba, Sumatra Selatan, dan dihadiri oleh unsur Forkopimda setempat, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.
Kegiatan ini merupakan agenda tahunan Pengajian Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia dan tahun ini menjadi pertama kalinya diadakan di wilayah Muba.
Dukungan Pemerintah dan Harapan untuk Kemajuan
Muhammad Yamin, Kabag Kesra Sumatera Selatan, mewakili Gubernur Sumsel H. Herman Deru, secara resmi membuka acara tersebut.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara dan mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan mengikuti suluk ini.
“Saya sangat berharap kegiatan ini dapat membawa kemajuan bagi masyarakat Sumatera Selatan khususnya, serta seluruh Indonesia secara umum. Dengan visi dan misi mulia, kegiatan ini mendukung program Indonesia Emas dan bermartabat, yang selaras dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto,” ujar Yamin.
Namun demikian, ia juga menyoroti kondisi akses jalan menuju lokasi acara yang cukup ekstrem dan menantang.
“Jalannya cukup mengkhawatirkan, jantung serasa berdebar saat melewatinya. Harapannya, pemerintah dapat memperhatikan dan membantu agar jalan ini lebih layak dan aman dilalui,” tambahnya.
Antusiasme Peserta dari Seluruh Indonesia
Ketua Umum TNIAAMBB, M. Edi, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya. Ia berharap para peserta dapat menjalani pelatihan rohani dengan penuh kesungguhan.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Saya sangat terharu melihat antusiasme peserta, yang jumlahnya mencapai 269 orang dari berbagai daerah, seperti Aceh, Riau, Medan, Padang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Lampung, Bogor, Tasik, hingga Jakarta,” ungkapnya.
Edi juga menjelaskan bahwa meskipun gedung suluk masih dalam tahap pengerjaan darurat, panitia tetap berusaha memberikan fasilitas terbaik bagi peserta.
“Saat ini kapasitas gedung mencapai 500 orang. Kami optimis tahun depan akan lebih baik lagi dengan peningkatan fasilitas,” tambahnya.
Salah satu peserta, Iwan, mengungkapkan rasa syukurnya dapat mengikuti Khalwat Fijawad ini. “Semoga kami dapat menyelesaikan pelatihan rohani ini dengan baik dan mendapatkan berkah dari Allah SWT,” ujarnya.
Makna Suluk dalam Kehidupan
Buya Syekh Muhammad Maulana Nur Addin Badruzzaman, pimpinan tertinggi Pengajian Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia, menjelaskan pentingnya suluk sebagai bagian dari kewajiban spiritual umat Islam.
“Suluk adalah perjalanan menuju Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 69, yang memerintahkan manusia untuk menempuh jalan-Nya. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan dzikir dan adab yang benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa acara ini merupakan gelombang pertama dari serangkaian pelatihan rohani yang akan berlangsung hingga pertengahan Ramadan. “Gelombang kedua akan menyusul, dan total peserta akan menjalani pelatihan selama 10 hari 11 malam, mencakup 17 mata pelajaran,” ungkapnya.
Pusat Pengembangan Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia
Gedung suluk yang saat ini digunakan masih dalam tahap pembangunan darurat. Ke depan, rencananya akan direnovasi menjadi bangunan semi permanen yang lebih layak. Gedung ini juga akan menjadi pusat pengembangan Pengajian Thoriqoh Naqsabandiyah Indonesia di seluruh negeri.
Dengan suksesnya pelaksanaan Khalwat Fijawad perdana di Muba, harapannya acara ini dapat menjadi tradisi tahunan yang semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi umat Islam di Indonesia.
![]()












